Selamat Hari Guru: Seremonial kosong dan glorifikasi ucapan "Semoga Berkah"


 

Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi aku memilh menjadi manusia yang merdeka (Gie)

Ingarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Senang dan marahnya menjelang hari guru adalah perihal dilematis yang kerap dirasakan guru setiap tahun. Jikapun senang, itu akan menjadi semu, jikapun marah, itu akan menjadi jemu.

Seremonial di hari guru tidak lepas dari doa-doa meriah yang berebutan ingin cepat sampai langit, salah satunya “semoga berkah”. Pada akhirnya doa itu dimanfaakan oleh sebagian orang, alih-alih menjadi penguat spritual seorang guru, doa “semoga berkah” menjadi alat politis untuk menajamkan politisasi lewat doktrin-doktrin agama.

Yang paling penting adalah, perhatian-perhatian yang harusnya sudah diberikan kepada guru. sebagaimana yang dikatakan oleh Dekan UNUSIDA Mauwwinatul Laili, S.S., M. Pd., “guru saat ini menghadapi spektrum tantangan yang makin kompleks, mulai dari beban administrasi yang tinggi, tuntutan kurikulum yang dinamis, hingga kewajiban beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang berkembang begitu cepat.”

Saya yakin, jika ada beberapa guru ditanyakan, lebih nyaman mana, diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa atau diberi gaji yang layak? Mereka tidak ragu menjawabnya dengan jawaban yang kedua. 

Ingarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, falsafah yang bahkan sampai sekarang masih erat di jari-jari seorang guru, begitu adanya memang.  Dan sialnya pandangan masyarakat kepada guru masih terjebak di dalam narasi, “guru itu bukan bekerja tapi mengabdi”.

Lalu, kapan guru sejahtera? Tentu gampang menjawab itu, coba cari dibalik gedung-gedung DPR, coba cari dibalik bangunan-bangunan baru  IKN, coba cari dibalik barang-barang sitaan koruptor, coba cari dibalik senyumnya mas Gibran, barangkali dibalik senyumnya yang manis terdapat kesejahteraan guru.

Pertanyaan selanjutnya, apa saja kesulitan menjadi guru di tahun-tahun ini? Tentu gampang sekali, guru-guru yang bermutu akan kalah dengan guru-guru yang membawa tugas suci dari pemerintah, yaitu penguatan digitalisasi, yang menjadikan murid-muridnya talent gratisan, oh ada lagi, guru-guru yang bahkan ilmunya subtansial sekarang dipaksa ikut seminar yang isinya hanya basa-basi, makan pastel, lalu pulang ke sekolah hanya membawa kenyang. Guru masih terjebak pada tata kelola yang sama sekali tidak matang.

“kalo udah tahu gaji guru murah, kenapa mau jadi guru?” pertanyaan yang amat membuat urat-urat leher mengencang. Sebetulnya pertanyaan dungu itu tidak perlu didengar, tapi bahaya juga jika itu menjad alat apalagi campaign orang-orang korup.

Jadi yang paling penting bagi guru disetiap tanggal 25 November adalah evaluasi pemangku kebijakan tentang kesejahteraan guru, agar guru mendapatkan haknya dengan sempurna, memang terkadang yang dibutuhkan guru bukan hanya ucapan selamat semoga berkah, tapi yang dibutuhkan guru adala advokasi yang tersampaikan, sesampai-sampainya.

Selamat Hari Guru, selamat menghitung 2 juta di bagi 30 hari.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Terlalu Dini

Cari Blog Ini