Terlalu Dini



Ada pagi serta mentari, 
Jendela beradu-adu menahan awan yang tak kunjung putih. 
Dan mereka pun sudah bosan berlakon ditengahnya. 


Perlahan, menahan, 
jangan sampai terlihat hujan yang deras itu jatuh di pipi kanan.
Api yang kecil bisa menyantapmu,
angin yang besar bisa menusukmu
Dan harap yang mewah bisa mengubah menang menjadi kalah, lalu lelah, lalu menyerah. 


Rabu ini sedikit asing, 
Perihal salah yang tak pernah dimaafkan, perihal kelompok dan golongan, perihal lambang yang dikultuskan, perihal uang yang direbutkan, perihal jabatan yang dipertanyakan, perihal kepercayaan yang dibalas pengkhianatan, perihal teman yang menikam ketika malam, perihal kebodohan para pimpinan, perihal tugas yang enggan hilang, perihal salah masuk golongan, oh maaf salah, perihal yang harusnya tidak bergolong, kemudian masuk pada lubang kosong, perihal-perihal.

Air dingin di siang terang memang sangat menghapus dahaga, tapi
aku masih saja kecewa.
Airnya terlalu cepat berubah,
ruangnya kembali sempit
Atau tangannya memang banyak memegang tangan? 
Atau temannya lebih dari sekedar pergaulan? 
Atau memang itu dianggap semacam perlindungan?
Atau memang semuanya membuat nyaman?
Atau, ah sudahlah.

Tulisan ini akan sangat membosankan jika dibaca selain di hari Rabu, percayalah.
lanjut, di hari yang masih dini, segelas risau menghampiri, bertanya beberapa hal yang memang tak pernah kutanggapi. 
kapan mulai memilih? 
Kapan mulai menentukan, cokelat atau bunga? 


Sekarang ini, jawabku dalam hati. Aku lebih menikmati harumnya bunga dan cokelat, bukankah itu hal yang paling selamat? 

Posting Komentar

0 Komentar

Terlalu Dini

Cari Blog Ini