Sumber Gambar: https://ugm.ac.id/id/berita/setahun-program-mbg-pakar-gizi-ugm-desak-stop-penggunaan-ultra-processed-food/
Retaknya Kepercayaan Publik Terhadap Program Unggulan Prabowo Gibran
2025 awal
pertama kali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan, Pak Prabowo
menjanjikan akan menyalurkan ke 82 juta penerima manfaat di Indonesia. Sampai
saat ini Program Unggulan tersebut masih terealisasikan dengan beberapa catatan
dan hambatan.
Sejak awal
program ini diluncurkan cukup banyak yang mengkritisi, karena sejujurnya ini
akan menjadi langkah yang berat untuk pemerintahan Pak Prabowo. Kita tidak bisa
meragukan bahwa program ini dihajatkan olehnya tidak lain hanya untuk
mencerdaskan generasi muda yang akan segera diproyeksikan untuk menyambut
“Indonesia Emas 2045”, tapi sepertinya itu saja tidak cukup untuk mengelola dan
mengalirkan program yang tidak mudah itu.
Detikbali (09/Sep/2025)
mencatat Anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan mencapai Rp
1,2 triliun per hari pada tahun depan. Dana tersebut akan digunakan untuk
melayani 82,9 juta orang di seluruh Indonesia. Artinya jika dikalkulasikan
pertahun anggaran ini menjadi pengeluaran yang raksasa. Kepala Biro Komunikasi
dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan Deni Surjantoro menjelaskan
rincian alokasi anggaran Program MBG pada tahun ini. Dari total Rp335 triliun,
sebanyak Rp268 triliun di antaranya dialokasikan kepada Badan Gizi Nasional
(BGN) sebagai lembaga utama pelaksana program tersebut. Pak Prabowo membutuhkan
335 T pertahun untuk menlancarkan program Unggulannya.
Masalah
yang harus diterjang untuk menjalankan program ini bukan hanya pada anggaran
saja, belum lagi kendala teknis lapangan yang kerap mengikis kepercayaan
masyarakat pada Program Makan Gizi Gratis (MBG), masalah keracunan misalnya. Belum
lagi beberapa petugas yang tidak mampu menampung dan mengaloskasikan tugasnya dengan benar. "Berdasarkan monitoring media, sepanjang tahun 2025
tercatat 12.658 anak mengalami kasus keracunan MBG di 38 provinsi," kata
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra dalam pemaparan Laporan Akhir Tahun (LAT) di
Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (15/1/2026 Detik.com). Angka yang cukup bombastis
itu sudah cukup membuat rakyat menggigit jari lantaran pemerintah masih belum
melaksanakan program raksasa ini dengan terarah dan efektif. Selanjutnya masalah
akar rumput yang sudah menjadi rumor menggelitik di Desember lalu, bahwa anak
sekolah tetap mendapatkan MBG ketika hari libur tiba, pasalnya itu inisiasi
yang cukup baik, tapi sayang disayang hal itu menjadi sumbu amarah bagi korban
yang merasakan. MBG tetap berjalan saat liburan sekolah dan anak sekolah tetap
mendapatkan MBG tapi dengan makanan yang seadanya dan mungkin tidak layak,
mereka mendapatkan: Roti tawar, kacang-kacangan, susu, dan buah-buahan (roti
yang sudah berjamur, 1 sampai 2 buah utuh, dan makanan kemasan siap saji seperti
wafer.
Masalah lainnya
tidak lepas dari ketersinggungan orang-orang yang memerankan dirinya di dunia
pendidikan, pasalnya anggaran yang besar itu akan menyentuh anggaran
pendidikan.
Kusuma
mengatakan, sesuai Pasal 31 ayat 4 UUD 1945, pemerintah berkewajiban
mengalokasikan anggaran 20% dari APBN dan Anggaran Belanja dan Pendapatan
Daerah (APBD) untuk penyelenggaraan pendidikan. Tapi hak konstitusional warga
atas pendidikan, klaimnya, dirugikan dengan berlakunya Pasal 22 ayat 3 UU APBN
2026 beserta penjelasannya.
Sebab,
pasal itu memperluas tafsir pendanaan operasional penyelenggaraan pendidikan
demi bisa "menampung program makan bergizi". Dan, dengan masuknya
pendanaan MBG dalam anggaran pendidikan tentu saja "alokasi 20% menjadi
tidak utuh".
Hitungan
mereka, dari total anggaran pendidikan tahun 2026 sebesar Rp769,1 triliun,
sebanyak Rp223 triliun dipangkas untuk MBG. Jelas isu rencana pemangkasan
angaran pendidikan dialih fungsikan menjadi pendanaan MBG digugat beberapa
pihak karena membuyarkan lini pendidikan.
Hanya
demi mengejar target 82.9 juta penerima manfaat, program ini bisa mengakibatkan
ketimpangan yang besar, dari situlah masyarakat beberapa waktu ini mengalami
hilang kepercayaan pada program raksasanya Pak Prabowo.
kita dipaksa untuk memilih "kenyang tapi bodoh" atau "pintar tapi lapar", selamat menikmati politik di negeri tercinta ini.

0 Komentar