Nasib Pedagang Pinggir Jalan

Sumber gambar: Shutterstock

Di sore yang lelah, menyengat di tepi jalan harum bumbu-bumbu cabai yang menggiurkan. Uap-uap bumbu dapur menyerang rasa lapar para buruh yang baru saja merampungkan pekerjaannya. Bunyi minyak yang mendesis kencang meraba-meraba udara gersang di antara pabrik dan jalan kampung. Cimol, cireng, cilor, seblak, dan makanan berbahan tepung lainnya menjadi hidangan paling dicari oleh masyarakat menengah kebawah. Gurihnya adonan tepung yang digoreng ataupun direbus, lalu ditambahkannya bumbu penyedap selalau menjadi solusi pelipur lapar bagi masyarakat yang sedang mencari makanan murah meriah.

Di samping ramainya kepulan asap penggorengan yang semakin tebal, di balik letupan minyak yang semakin ramai meluncur di jari-jari sang pedagang, di samping gerobak dagangan yang berdamping mesra dengan polusi jalan, kecil kita sadari bahwa adonan yang sedang  digoreng oleh pedangan pinggir jalan adalah tameng terakhir dalam rangka menyelamatkan anak-anaknya dari kelapran, menjadi usaha terakhir agar beras tetap terbeli.

Melihat maraknya pedagang yang berjualan dengan barang serupa, dengan bumbu yang tanpa resep rahasia, dengan gerobak yang bentuknya tak terlihat beda, terlihat romantisasi pemerintah terhadap kemajuan UMKM berhasil pesat. Jika ditilik bersama, bahwa sang aktor yang sedang beraksi di panggung perekonomian Usaha Mikro Kecil Menengah tidak jauh dari mantan pekerja pabrik yang di PHK, pensiunan, atau anak-anak muda yang baru saja menyelesaikan sekolah atau kuliahnnya. Mereka menaruh uang terakhirnya untuk membeli bahan-bahan yang relatif terjangkau dengan modal yang meraka punya.

Seperti yang kita ketahui, bahwa cireng yang dibuat oleh pedagang A, tidak jauh berbeda rasanya dengan cireng pedagang B, atau pedangan A menggunakan bubuk cabai yang sama persis dengan bubuk cabai pedagan B. Pada dasarnya usaha semacam ini tidak didasari inovasi dan ide kreatif, penulis tidak merendahkan sedikitpun, tapi memang begitulah pahitnya, usaha semacam ini didasari karena kebutuhan yang semakin mencekik dompet, atau menghilangkan rasa malu karena status  nganggur selalu menempel menjadi beban sosial.

Fenomena ini sudah banyak dijelaskan  dibanyak tulisan, media massa dll, bahwa iming-iming memberi dorongan terhadap UMKM adalah narasi manis yang dibuat oleh pemerintah. Seperti buah yang berwarna cantik, dan berkulit lembut, tapi tak disangka rasanya tak sebagus rupanya, pahit, bau. Seperti itulah janji pemerintah, pada akhirnya narasi yang seolah akan ditunaikan, narasi yang terasa manis, narasi yang membuat hati tenang, ternyata menjadi akar kegelisahan bagi kaum yang sadar.

Maraknya UMKM yang muncul ternyata berbanding lurus dengan jumlah PHK yang tersebar di berbagai kota. Hal ini terkonfirmasi dengan jumlah status nonaktif dan tunggakkan tagihan BPJS sejak tahun 2021. Maraknya tunggakkan dan penonaktifan kepesertaan BPJS  salah satu faktor terbesarnya adalah PHK.

Selain itu, ketika ratusan ribu orang yang mulai memberanikan diri untuk menjual beberapa gram emas kawinnya untuk modal usaha kecil, justru ruang aman bagi pemerintah semakin lebar setidaknya beberapa meter dari sebelumnya, melonggarkan tanggung jawab, dan memberikan udara yang sangat segar kepada mereka. Para pedagang pinggir jalan ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengisi kolom-kolom kosong di kertas-kertas Badan Statisitik, lalu mau tidak mau para pedagang dipaksa mengisi dengan status pekerjaan wirausaha. Tidak ada yang menjamin bahwa usaha mereka berjalan lancar atau tidak, apakah keuntungannya bisa membuat satu keluarga kenyang atau tidak, apakah usahanya akan berkembang atau hanya menemani kemiskinannya saja, mereka sama tidak peduli dengan itu semua, yang pemerintah peduli dan butuhkan hanyalah berubahnya status di statistik dari pengangguran menjadi wirausaha.

Hal yang paling menjengkelkan dari perkara ini adalah saat romantisasi sedang berlanjut, yang laris disuarakan bahwa UMKM tanda dari kemandirian masyarakat terhadap perekonomian, penyelamat roda ekonomi, dan di saat itu pulalah UMKM sedang mati-matian mempertahankan beberapa uang receh demi mendapatkan modal untuk diputar kembali di esok hari. Walaupun begitu bahwa menajalankan usaha makanan berbahan dasar tepung adalah siklus ekonomi yang paling masuk akal bagi masyarakat yang tidak mempunyai modal lebih, atau bagi orang yang sangat ingin menutupi biaya bulanannya, maka berdagang cimol, cilok, seblak, gorengan, dan semacamnya lah yang bisa membangkitkan semangat mereka.

Miris, sayang telah terjadi bahwa semangat ini kerap dimanfaatkan oleh pemerintah yang enggan berpikir untuk meningkatkan lapangan pekerjaan formal yang layak. Semangat berdagang yang dimiliki oleh mereka dijadikan jaring pengaman sosial secara mandiri, yang semestinya di situlah pemerintah berperan. Pada akhirnya para penjual pinggir jalan tidak dilirik sedetik pun untuk ditanyakan tentang kesejahteraan  mereka, tentang bagaimana mereka mendapat bantuan dan dorongan langsung dari pemerintah, dan bagaiamana  mereka bisa terbebas dari perdagangan yang statusnya sangat rentan terhadap gejolak ekonomi nasional.

Demikianlah nasib para pedagang tepung olahan yang rela berdarah-berdarah mempertahankan usahanya agar bisa bertahan. Sedangkan pemerintah sedang bermesra ria, mereka merasa sangat dimudahkan lantaran jutaan status pengangguran berubah  menjadi wirausaha, dan dengan sombongnya mereka bangga menyebutkan bahwa itu atas jerih usaha mereka dalam menurunkan jumlah pengangguran.

Note: Tulisan ini terinspirasi dari channel YT @Kendati Demikian

 

 

Posting Komentar

0 Komentar

Cari Blog Ini