Di sore yang lelah, menyengat di
tepi jalan harum bumbu-bumbu cabai yang menggiurkan. Uap-uap bumbu dapur
menyerang rasa lapar para buruh yang baru saja merampungkan pekerjaannya. Bunyi
minyak yang mendesis kencang meraba-meraba udara gersang di antara pabrik dan
jalan kampung. Cimol, cireng, cilor, seblak, dan makanan berbahan tepung
lainnya menjadi hidangan paling dicari oleh masyarakat menengah kebawah.
Gurihnya adonan tepung yang digoreng ataupun direbus, lalu ditambahkannya bumbu
penyedap selalau menjadi solusi pelipur lapar bagi masyarakat yang sedang
mencari makanan murah meriah.
Di samping ramainya kepulan asap
penggorengan yang semakin tebal, di balik letupan minyak yang semakin ramai
meluncur di jari-jari sang pedagang, di samping gerobak dagangan yang
berdamping mesra dengan polusi jalan, kecil kita sadari bahwa adonan yang
sedang digoreng oleh pedangan pinggir
jalan adalah tameng terakhir dalam rangka menyelamatkan anak-anaknya dari
kelapran, menjadi usaha terakhir agar beras tetap terbeli.
Melihat maraknya pedagang yang
berjualan dengan barang serupa, dengan bumbu yang tanpa resep rahasia, dengan
gerobak yang bentuknya tak terlihat beda, terlihat romantisasi pemerintah
terhadap kemajuan UMKM berhasil pesat. Jika ditilik bersama, bahwa sang aktor
yang sedang beraksi di panggung perekonomian Usaha Mikro Kecil Menengah tidak
jauh dari mantan pekerja pabrik yang di PHK, pensiunan, atau anak-anak muda
yang baru saja menyelesaikan sekolah atau kuliahnnya. Mereka menaruh uang
terakhirnya untuk membeli bahan-bahan yang relatif terjangkau dengan modal yang
meraka punya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa
cireng yang dibuat oleh pedagang A, tidak jauh berbeda rasanya dengan cireng
pedagang B, atau pedangan A menggunakan bubuk cabai yang sama persis dengan
bubuk cabai pedagan B. Pada dasarnya usaha semacam ini tidak didasari inovasi dan
ide kreatif, penulis tidak merendahkan sedikitpun, tapi memang begitulah
pahitnya, usaha semacam ini didasari karena kebutuhan yang semakin mencekik
dompet, atau menghilangkan rasa malu karena status nganggur selalu menempel menjadi beban
sosial.
Fenomena ini sudah banyak
dijelaskan dibanyak tulisan, media massa
dll, bahwa iming-iming memberi dorongan terhadap UMKM adalah narasi manis yang
dibuat oleh pemerintah. Seperti buah yang berwarna cantik, dan berkulit lembut,
tapi tak disangka rasanya tak sebagus rupanya, pahit, bau. Seperti itulah janji
pemerintah, pada akhirnya narasi yang seolah akan ditunaikan, narasi yang
terasa manis, narasi yang membuat hati tenang, ternyata menjadi akar
kegelisahan bagi kaum yang sadar.
Maraknya UMKM yang muncul
ternyata berbanding lurus dengan jumlah PHK yang tersebar di berbagai kota. Hal
ini terkonfirmasi dengan jumlah status nonaktif dan tunggakkan tagihan BPJS
sejak tahun 2021. Maraknya tunggakkan dan penonaktifan kepesertaan BPJS salah satu faktor terbesarnya adalah PHK.
Selain itu, ketika ratusan ribu
orang yang mulai memberanikan diri untuk menjual beberapa gram emas kawinnya
untuk modal usaha kecil, justru ruang aman bagi pemerintah semakin lebar
setidaknya beberapa meter dari sebelumnya, melonggarkan tanggung jawab, dan
memberikan udara yang sangat segar kepada mereka. Para pedagang pinggir jalan
ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengisi kolom-kolom kosong di
kertas-kertas Badan Statisitik, lalu mau tidak mau para pedagang dipaksa
mengisi dengan status pekerjaan wirausaha. Tidak ada yang menjamin bahwa usaha
mereka berjalan lancar atau tidak, apakah keuntungannya bisa membuat satu
keluarga kenyang atau tidak, apakah usahanya akan berkembang atau hanya
menemani kemiskinannya saja, mereka sama tidak peduli dengan itu semua, yang
pemerintah peduli dan butuhkan hanyalah berubahnya status di statistik dari
pengangguran menjadi wirausaha.
Hal yang paling menjengkelkan
dari perkara ini adalah saat romantisasi sedang berlanjut, yang laris disuarakan bahwa UMKM tanda dari kemandirian masyarakat terhadap perekonomian,
penyelamat roda ekonomi, dan di saat itu pulalah UMKM sedang mati-matian
mempertahankan beberapa uang receh demi mendapatkan modal untuk diputar kembali
di esok hari. Walaupun begitu bahwa menajalankan usaha makanan berbahan dasar
tepung adalah siklus ekonomi yang paling masuk akal bagi masyarakat yang tidak
mempunyai modal lebih, atau bagi orang yang sangat ingin menutupi biaya
bulanannya, maka berdagang cimol, cilok, seblak, gorengan, dan semacamnya lah
yang bisa membangkitkan semangat mereka.
Miris, sayang telah terjadi bahwa
semangat ini kerap dimanfaatkan oleh pemerintah yang enggan berpikir untuk
meningkatkan lapangan pekerjaan formal yang layak. Semangat berdagang yang
dimiliki oleh mereka dijadikan jaring pengaman sosial secara mandiri, yang semestinya
di situlah pemerintah berperan. Pada akhirnya para penjual pinggir jalan tidak
dilirik sedetik pun untuk ditanyakan tentang kesejahteraan mereka, tentang bagaimana mereka mendapat
bantuan dan dorongan langsung dari pemerintah, dan bagaiamana mereka bisa terbebas dari perdagangan yang
statusnya sangat rentan terhadap gejolak ekonomi nasional.
Demikianlah nasib para pedagang
tepung olahan yang rela berdarah-berdarah mempertahankan usahanya agar bisa
bertahan. Sedangkan pemerintah sedang bermesra ria, mereka merasa sangat
dimudahkan lantaran jutaan status pengangguran berubah menjadi wirausaha, dan dengan sombongnya mereka
bangga menyebutkan bahwa itu atas jerih usaha mereka dalam menurunkan jumlah
pengangguran.
Note: Tulisan ini terinspirasi
dari channel YT @Kendati Demikian

0 Komentar