Bagaimana Hujan Bisa Terjadi? Begini
Perjalanan Air dari Bumi hingga Jatuh dari Langit
Sumber gambar: istock
Pernahkah
kita berhenti sejenak ketika hujan turun dan bertanya, sebenarnya dari mana air
sebanyak itu berasal?
Pertanyaan
tersebut terdengar sederhana. Kita mungkin sejak kecil sudah mengetahui bahwa
hujan berasal dari awan. Air menguap, membentuk awan, kemudian turun kembali ke
bumi dalam bentuk hujan. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, proses terjadinya
hujan ternyata jauh lebih menarik daripada yang terlihat.
Setetes
air hujan yang jatuh ke tanah bukanlah air yang tiba-tiba muncul dari langit.
Air tersebut merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang yang terus
berlangsung di bumi. Air dari laut, sungai, danau, tanah, bahkan tumbuhan dapat
masuk ke atmosfer, berubah menjadi uap air, berkumpul membentuk awan, kemudian
kembali ke permukaan bumi sebagai hujan.
Siklus
yang terus berlangsung tersebut dikenal sebagai siklus hidrologi atau siklus
air.
Menariknya
lagi, air di bumi pada dasarnya terus berpindah dan berubah bentuk. Air dapat
berada dalam bentuk cair, gas berupa uap air, maupun padat seperti es. Siklus
air memungkinkan air terus bergerak antara permukaan bumi, tanah, laut, dan
atmosfer.
Lantas,
bagaimana proses tersebut akhirnya menghasilkan hujan?
Semuanya Bermula dari Panas Matahari
Untuk
memahami bagaimana hujan terjadi, kita perlu memulainya dari sesuatu yang
sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: matahari.
Matahari
memberikan energi yang sangat besar kepada bumi. Energi tersebut memanaskan
permukaan laut, sungai, danau, tanah, dan berbagai permukaan yang mengandung
air.
Ketika
air mendapatkan energi panas yang cukup, sebagian molekul air dapat berubah
dari bentuk cair menjadi gas. Proses tersebut disebut evaporasi atau
penguapan.
Laut
merupakan salah satu sumber utama air yang masuk ke atmosfer melalui proses
penguapan. NOAA menjelaskan bahwa lebih dari 96 persen air di bumi berada di
lautan, sehingga laut memiliki peranan sangat besar dalam siklus air global.
Namun,
laut bukan satu-satunya sumber uap air.
Air
dari sungai, danau, genangan, tanah, serta permukaan basah lainnya juga dapat
menguap. Bahkan tumbuhan ikut berkontribusi melalui proses yang disebut transpirasi,
yaitu pelepasan uap air dari tumbuhan ke atmosfer.
Dengan
demikian, ketika kita melihat udara yang tampak kosong, sebenarnya atmosfer
mengandung uap air yang tidak terlihat oleh mata.
Uap
air inilah yang nantinya menjadi salah satu bahan utama pembentukan awan.
Mengapa Air Bisa Naik ke Langit?
Mungkin
muncul pertanyaan lain: jika air memiliki massa, bagaimana air bisa berada di
langit?
Jawabannya
berkaitan dengan perubahan bentuk air dan pergerakan udara.
Ketika
air menguap, air berubah dari cair menjadi gas berupa uap air. Uap air kemudian
bercampur dengan udara di atmosfer.
Pada
saat yang sama, udara yang hangat dapat bergerak naik. Udara yang naik akan
mengalami perubahan tekanan dan umumnya mendingin ketika mencapai ketinggian
yang lebih tinggi.
Menurut
U.S. Geological Survey (USGS), awan terbentuk ketika udara yang mengandung uap
air naik dan mengalami pendinginan sehingga uap air dapat mengalami kondensasi.
Jadi,
awan sebenarnya bukan kumpulan asap atau uap air yang sekadar menggantung di
langit. Awan terdiri atas partikel-partikel air yang sangat kecil, baik berupa
tetesan air maupun kristal es.
Namun,
bagaimana uap air yang tidak terlihat bisa berubah menjadi tetesan air yang
dapat kita lihat?
Di
sinilah proses kondensasi memainkan peranan penting.
Ketika Uap Air Berubah Menjadi Tetesan Air
Kondensasi
merupakan proses ketika uap air berubah kembali menjadi air dalam bentuk cair.
Contoh
sederhana kondensasi dapat kita lihat pada gelas berisi minuman dingin. Setelah
beberapa saat, bagian luar gelas biasanya dipenuhi titik-titik air.
Air
tersebut bukan berarti merembes dari dalam gelas. Uap air yang terdapat di
udara bertemu dengan permukaan gelas yang dingin, kemudian mengalami kondensasi
menjadi tetesan air.
Hal
yang serupa terjadi di atmosfer, meskipun prosesnya jauh lebih kompleks.
Ketika
udara lembap naik ke atmosfer dan menjadi semakin dingin, kemampuan udara untuk
mempertahankan uap air dalam bentuk gas berubah. Ketika kondisi tertentu
tercapai, uap air mulai mengalami kondensasi.
Tetapi
kondensasi di atmosfer biasanya membutuhkan sesuatu yang menjadi tempat bagi
uap air untuk berkumpul.
Partikel-partikel
kecil di udara seperti debu, garam, atau partikel lainnya dapat menjadi inti
kondensasi awan (cloud condensation nuclei). Uap air kemudian dapat
berkondensasi pada partikel-partikel tersebut dan membentuk tetesan air yang
sangat kecil.
Tetesan
tersebut sangat kecil sehingga dapat tetap melayang di atmosfer.
Dalam
jumlah yang sangat banyak, kumpulan tetesan air atau kristal es itulah yang
kemudian kita kenali sebagai awan.
Awan Tidak Selalu Menghasilkan Hujan
Ada
satu kesalahpahaman yang cukup umum: jika ada awan, berarti sebentar lagi akan
hujan.
Padahal,
tidak semua awan menghasilkan hujan yang mencapai permukaan bumi.
USGS
menjelaskan bahwa tetesan air di dalam awan umumnya sangat kecil. Ukurannya
belum cukup besar untuk jatuh sebagai hujan karena gerakan udara di dalam awan
dapat membuat tetesan tersebut tetap melayang.
Artinya,
terbentuknya awan baru merupakan salah satu tahap dalam perjalanan menuju
hujan.
Agar
hujan benar-benar turun, tetesan air atau partikel es di dalam awan harus
mengalami pertumbuhan hingga cukup besar dan berat.
Pertanyaannya
kemudian adalah: bagaimana tetesan air yang sangat kecil tersebut bisa berubah
menjadi tetesan hujan?
Tetesan Air Mulai Bertumbuh
Di
dalam awan terdapat jutaan bahkan lebih banyak lagi tetesan air yang ukurannya
sangat kecil. Tetesan-tetesan tersebut terus bergerak dan dapat saling
bertabrakan.
Ketika
dua atau lebih tetesan air bertemu dan bergabung, terbentuk tetesan yang lebih
besar. Proses penggabungan tersebut dikenal sebagai koalesensi.
Semakin
banyak tumbukan dan penggabungan yang terjadi, semakin besar pula ukuran
tetesan air.
USGS
menjelaskan bahwa untuk menghasilkan satu tetes hujan, diperlukan proses
pertumbuhan yang sangat besar dari tetesan-tetesan awan yang berukuran jauh
lebih kecil.
National
Weather Service bahkan menjelaskan bahwa sebuah tetes hujan berukuran sekitar 2
milimeter dapat mengandung air yang setara dengan sekitar satu juta tetesan
awan yang sangat kecil.
Angka
tersebut menunjukkan betapa panjangnya perjalanan sebuah tetes air sebelum
akhirnya jatuh ke tanah.
Peran Kristal Es dalam Pembentukan Hujan
Pembentukan
hujan ternyata tidak selalu hanya melibatkan tetesan air.
Di
bagian awan yang suhunya sangat rendah, dapat terdapat kristal es. Dalam
kondisi tertentu, kristal es dapat tumbuh dengan mengambil uap air di
sekitarnya.
Ada
proses penting yang dikenal sebagai proses Bergeron-Findeisen. Secara
sederhana, dalam awan yang mengandung kristal es dan tetesan air, kristal es
dapat tumbuh dengan lebih cepat melalui perpindahan uap air.
Kristal
es yang semakin besar kemudian dapat jatuh. Ketika melewati lapisan udara yang
lebih hangat, kristal tersebut dapat mencair dan akhirnya mencapai permukaan
bumi sebagai hujan.
Dengan
demikian, air hujan yang kita lihat jatuh dalam bentuk cair tidak selalu
berasal dari tetesan air cair sejak awal. Dalam kondisi atmosfer tertentu,
perjalanan air tersebut dapat melibatkan fase es terlebih dahulu.
NASA
menjelaskan bahwa presipitasi dapat terbentuk dari partikel air cair maupun es
yang tumbuh di dalam awan dan kemudian jatuh melalui atmosfer.
Kapan Tetesan Air Mulai Jatuh?
Ada
satu hal penting dalam pembentukan hujan: gravitasi.
Tetesan
air di dalam awan tidak selamanya bisa bertahan di udara. Ketika ukurannya
bertambah, gaya gravitasi semakin mampu menariknya ke bawah.
Namun,
perjalanan menuju permukaan bumi tidak selalu mudah.
Udara
yang bergerak ke atas di dalam awan dapat menahan tetesan air agar tetap berada
di atmosfer. Karena itu, tetesan harus memiliki ukuran dan berat tertentu agar
dapat mengatasi gerakan udara tersebut.
Ketika
tetesan air akhirnya memiliki kecepatan jatuh yang cukup untuk mengatasi arus
udara yang menopangnya, tetesan tersebut mulai turun.
Inilah
awal dari presipitasi.
Jika
kondisi atmosfer memungkinkan dan tetesan tersebut mencapai permukaan bumi
dalam bentuk cair, kita menyebutnya hujan.
Mengapa Ada Awan yang Hanya Mendung tetapi Tidak Hujan?
Pernah
melihat langit yang sangat gelap dan penuh awan, tetapi hujan tidak kunjung
turun?
Hal
tersebut sebenarnya tidak aneh.
Awan
dapat mengandung banyak tetesan air, tetapi tidak semuanya tumbuh menjadi cukup
besar untuk jatuh ke permukaan.
Bahkan
ketika tetesan mulai jatuh, sebagian air dapat kembali menguap sebelum mencapai
tanah. National Weather Service menjelaskan bahwa tidak semua presipitasi yang
terbentuk di awan akan mencapai permukaan bumi karena sebagian dapat menguap
selama perjalanan.
Inilah
salah satu alasan mengapa kita terkadang melihat hujan seperti menggantung di
kejauhan atau melihat bagian bawah awan yang tampak seperti tirai air, tetapi
tanah di tempat kita berada tetap kering.
Jarak,
kelembapan, suhu, dan kondisi atmosfer semuanya dapat memengaruhi apakah
tetesan air mampu mencapai permukaan.
Mengapa Hujan Bisa Turun Deras?
Hujan
tidak selalu turun dengan intensitas yang sama.
Ada
hujan yang hanya berupa gerimis. Ada pula hujan yang turun sangat deras dalam
waktu singkat.
Perbedaan
tersebut berkaitan dengan kondisi atmosfer dan karakter awan yang menghasilkan
presipitasi.
Awan
yang berkembang secara vertikal dengan kuat, misalnya awan badai atau cumulonimbus,
dapat memiliki arus udara naik yang kuat dan kandungan air yang besar. Dalam
kondisi tertentu, proses pertumbuhan tetesan air dan kristal es di dalam awan
menjadi sangat aktif.
Ketika
banyak air akhirnya jatuh dalam waktu relatif singkat, hujan yang sampai ke
permukaan dapat menjadi sangat deras.
Itulah
sebabnya hujan deras sering kali terjadi bersamaan dengan awan yang tumbuh
tinggi dan kondisi atmosfer yang tidak stabil.
Mengapa Hujan Tidak Turun di Semua Tempat Secara Bersamaan?
Jika
hujan merupakan bagian dari siklus air, mengapa ketika satu daerah hujan deras,
daerah lain justru cerah?
Jawabannya
karena atmosfer bumi tidak memiliki kondisi yang sama di setiap tempat.
Jumlah
uap air, suhu, tekanan udara, arah angin, kondisi permukaan bumi, keberadaan
pegunungan, dan berbagai faktor atmosfer lainnya dapat berbeda dari satu
wilayah ke wilayah lain.
Pegunungan,
misalnya, dapat memengaruhi pergerakan udara. Ketika udara lembap bergerak
menuju pegunungan dan dipaksa naik, udara tersebut dapat mendingin dan
mengalami kondensasi. Kondisi ini dapat membantu pembentukan awan dan
presipitasi di wilayah tertentu.
Selain
itu, pemanasan permukaan bumi yang tidak merata juga dapat memengaruhi
pergerakan udara.
Inilah
salah satu alasan mengapa cuaca dapat berubah dari satu tempat ke tempat lain.
Setelah Hujan Turun, Ke Mana Airnya Pergi?
Perjalanan
air sebenarnya belum selesai setelah hujan menyentuh tanah.
Sebagian
air hujan dapat mengalir di permukaan tanah menuju parit, sungai, dan danau.
Proses ini dikenal sebagai runoff atau limpasan permukaan.
Sebagian
lainnya dapat meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi dan kemudian
menjadi bagian dari air tanah.
Air
yang berada di permukaan bumi pada akhirnya dapat kembali menuju sungai dan
laut.
Sementara
itu, sebagian air diserap oleh tumbuhan. Air tersebut kemudian dapat dilepaskan
kembali ke atmosfer melalui transpirasi.
Air
yang berada di laut, sungai, tanah, dan tumbuhan dapat kembali masuk ke
atmosfer melalui penguapan atau proses lainnya.
Kemudian
siklus tersebut berulang.
Air
menguap, naik ke atmosfer, mengalami kondensasi, membentuk awan, menjadi
presipitasi, kembali ke permukaan bumi, lalu bergerak lagi menuju berbagai
tempat sebelum akhirnya kembali ke atmosfer.
Hujan Sebenarnya Bagian dari Perjalanan Air yang Tidak
Pernah Berhenti
Jika
dipikirkan, hujan merupakan salah satu bagian dari sistem yang sangat besar.
Air
yang jatuh dari langit hari ini mungkin berasal dari penguapan laut. Air
tersebut kemudian dibawa oleh pergerakan atmosfer, mengalami kondensasi, masuk
ke dalam awan, tumbuh menjadi tetesan yang cukup besar, dan akhirnya jatuh ke
bumi.
Setelah
itu, air tersebut dapat masuk ke sungai, meresap menjadi air tanah, diserap
tumbuhan, atau kembali ke laut.
Kemudian,
dengan energi dari matahari, sebagian air tersebut kembali menguap.
Siklus
tersebut terus berlangsung.
NASA
menjelaskan bahwa siklus air merupakan proses berkelanjutan yang menghubungkan
laut, daratan, atmosfer, sungai, dan air tanah. Air terus berubah bentuk dan
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Fakta Menarik: Awan Tidak Terbuat dari Uap Air Saja
Ada
anggapan bahwa awan merupakan kumpulan uap air.
Sebenarnya,
uap air sendiri tidak terlihat. Awan yang kita lihat terbentuk terutama dari
kumpulan tetesan air berukuran sangat kecil, kristal es, atau campuran
keduanya.
Uap
air harus mengalami perubahan fase terlebih dahulu agar menjadi partikel air
atau es yang dapat terlihat.
Itulah
sebabnya kita tidak bisa melihat uap air di atmosfer secara langsung seperti
melihat awan.
Secara
sederhana, kita dapat membayangkan prosesnya seperti ini:
Air
di permukaan → menguap → menjadi uap air → naik dan mendingin → mengalami
kondensasi → membentuk awan → tetesan air atau kristal es membesar → jatuh
sebagai presipitasi → menjadi hujan → kembali ke permukaan bumi.
Kemudian
siklus tersebut dimulai kembali.
Jadi, Bagaimana Sebenarnya Hujan Bisa Terjadi?
Jika
seluruh proses tadi diringkas, hujan terjadi melalui beberapa tahapan utama.
Pertama,
energi matahari menyebabkan air di permukaan bumi menguap. Tumbuhan juga
menambahkan uap air ke atmosfer melalui transpirasi.
Kedua,
udara yang mengandung uap air naik ke atmosfer. Ketika semakin tinggi, udara
umumnya mengalami pendinginan.
Ketiga,
ketika kondisi cukup untuk mencapai kejenuhan, uap air mengalami kondensasi
pada partikel-partikel kecil di atmosfer dan membentuk tetesan air atau kristal
es. Kumpulan partikel tersebut membentuk awan.
Keempat,
tetesan air atau kristal es mengalami pertumbuhan melalui berbagai proses di
dalam awan.
Kelima,
ketika partikel tersebut menjadi cukup besar dan berat untuk mengatasi gerakan
udara ke atas, gravitasi menariknya turun.
Keenam,
jika tetesan air tersebut tetap berbentuk cair ketika mencapai permukaan bumi,
terjadilah hujan.
Setelah
itu, air kembali mengalir, meresap, terkumpul, atau digunakan oleh makhluk
hidup. Sebagian akhirnya kembali menguap dan masuk lagi ke atmosfer.
Siklus
tersebut tidak berhenti.
Penutup
Hujan
ternyata bukan sekadar air yang jatuh dari awan.
Di
balik setiap tetes hujan terdapat perjalanan panjang yang melibatkan matahari,
laut, sungai, tumbuhan, atmosfer, awan, suhu, angin, gravitasi, hingga
perubahan bentuk air.
Proses
tersebut menunjukkan bahwa alam bekerja melalui rangkaian yang saling
terhubung. Air yang berada di laut dapat menjadi uap, uap tersebut menjadi
bagian dari awan, awan menghasilkan hujan, dan air hujan kembali mengisi
sungai, tanah, dan laut.
Karena
itulah hujan merupakan bagian penting dari kehidupan di bumi. Air hujan
membantu mengisi sungai dan danau, menyediakan air bagi ekosistem, mengisi
kembali sebagian cadangan air tanah, dan menjadi salah satu bagian utama dalam
perputaran air di planet kita.
Jadi,
lain kali ketika melihat hujan turun, mungkin kita bisa melihatnya dengan cara
yang sedikit berbeda.
Di
balik suara rintik air yang jatuh ke atap, sebenarnya sedang berlangsung sebuah
perjalanan panjang air dari bumi menuju atmosfer dan kembali lagi ke bumi.
Sebuah
perjalanan yang terus berulang, hampir tanpa kita sadari.
Catatan Referensi
- U.S. Geological Survey (USGS),
Water Science School — “Condensation and the Water Cycle.” Sumber ini digunakan untuk penjelasan mengenai
kondensasi, pembentukan awan, peran uap air, serta terbentuknya tetesan
air di atmosfer.
USGS — Condensation and the Water Cycle - U.S. Geological Survey (USGS),
Water Science School — “Precipitation and the Water Cycle.” Digunakan untuk penjelasan mengenai presipitasi,
pertumbuhan tetesan air, koalesensi, dan proses terbentuknya hujan.
USGS — Precipitation and the Water Cycle - NOAA/National Weather Service —
“Cloud Development.”
Digunakan untuk penjelasan mengenai pembentukan awan, inti kondensasi,
pertumbuhan tetesan air, dan proses presipitasi.
National Weather Service — Cloud Development - NOAA/NESDIS — “What Is
Precipitation?” Digunakan untuk menjelaskan
hubungan antara penguapan, transpirasi, kondensasi, awan, dan presipitasi
sebagai bagian dari siklus air.
NOAA — What Is Precipitation? - NASA Science — “The Water
Cycle.” Digunakan untuk penjelasan
mengenai siklus air, penguapan dari laut, transpirasi tumbuhan,
kondensasi, awan, dan presipitasi.
NASA Science — The Water Cycle - NASA Goddard Space Flight
Center — “Water Cycle and Precipitation.” Digunakan sebagai referensi mengenai hubungan antara
perubahan fase air, awan, dan presipitasi dalam sistem iklim dan atmosfer
bumi.
NASA — Water Cycle and Precipitation - NOAA — “The Water Cycle.” Digunakan untuk penjelasan mengenai pergerakan air
antara laut, daratan, atmosfer, sungai, air tanah, serta proses penguapan
dan kondensasi.
NOAA — The Water Cycle

0 Komentar