Review Buku Aksi Massa Tan Malaka: Membaca Gagasan Revolusi,
Rakyat, dan Perubahan Sosial
Sumber gambar: WikipediaAda buku yang dibaca untuk mencari hiburan, ada
pula buku yang dibaca untuk memahami bagaimana seseorang melihat zamannya. Aksi
Massa karya Tan Malaka termasuk jenis yang kedua. Buku ini bukan bacaan
ringan dalam arti sebenarnya. Ia membawa pembaca masuk ke dalam persoalan
sejarah, kolonialisme, kapitalisme, kondisi rakyat, politik, revolusi, dan
hubungan antara rakyat dengan perubahan sosial.
Ditulis pada 1926 ketika Indonesia masih berada
di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Aksi Massa
memperlihatkan cara Tan Malaka membaca kondisi masyarakat pada zamannya. Buku ini
tidak hanya berbicara tentang aksi massa dalam pengertian demonstrasi atau
pengerahan orang dalam jumlah besar. Di dalamnya terdapat pembahasan yang jauh
lebih luas mengenai bagaimana perubahan politik seharusnya dipahami, siapa yang
menjadi kekuatan utama perubahan, serta mengapa kesadaran dan organisasi rakyat
dianggap penting dalam perjuangan.
Dalam edisi yang diterbitkan Narasi, Aksi
Massa tercatat memiliki 148 halaman dan diterbitkan dalam bahasa
Indonesia. Katalog Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa
Yogyakarta mencatat edisi keenam tahun 2019 dengan penyunting A. Yogaswara dan
ISBN 978-602-5792-52-6.
Membaca buku ini hampir seolah-olah mengajak kita
kembali ke Indonesia pada awal abad ke-20: sebuah masyarakat yang sedang
menghadapi kolonialisme, ketimpangan ekonomi, keterbatasan ruang politik, dan
tumbuhnya berbagai organisasi pergerakan.
Lalu, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Tan
Malaka melalui Aksi Massa?
Mengenal Aksi Massa
Aksi Massa pertama kali ditulis pada
1926 di Singapura. Naskah tersebut lahir dalam konteks pergolakan politik
pergerakan Indonesia pada masa kolonial. Sumber teks yang tersedia melalui
Wikisource mencatat bahwa risalah tersebut pertama kali diterbitkan pada 1926 di
Singapura.
Buku ini memiliki cakupan pembahasan yang cukup
luas. Daftar isinya menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak langsung berbicara
tentang aksi massa, melainkan terlebih dahulu membangun argumentasi melalui
pembahasan mengenai revolusi, sejarah Indonesia, imperialisme, kapitalisme
Indonesia, keadaan rakyat, kondisi sosial, dan politik. Setelah itu barulah
pembahasan diarahkan kepada revolusi di Indonesia, perangkat revolusi, gerakan
kemerdekaan, federasi republik, hingga program proletar.
Struktur tersebut menunjukkan satu hal penting:
bagi Tan Malaka, aksi massa tidak berdiri sendiri.
Aksi massa merupakan bagian dari pandangan yang
lebih luas mengenai perubahan sosial dan politik.
Karena itu, membaca buku ini hanya sebagai buku
tentang demonstrasi tentu akan membuat sebagian besar gagasannya terlewatkan.
Konteks Sejarah yang Melatarbelakangi Buku
Untuk memahami Aksi Massa, pembaca perlu
mengetahui konteks ketika buku tersebut ditulis.
Tahun 1926 bukanlah periode ketika Indonesia
sudah memiliki negara merdeka. Hindia Belanda masih berada di bawah
pemerintahan kolonial. Berbagai organisasi pergerakan telah muncul, sementara
gagasan mengenai nasionalisme, sosialisme, komunisme, dan kemerdekaan
berkembang di kalangan pergerakan.
Pada periode tersebut, perdebatan mengenai
strategi perjuangan juga berlangsung.
Tan Malaka sendiri merupakan salah satu tokoh
pergerakan yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pengalaman internasional
dan pemikiran sosialisme. Ia pernah tinggal dan beraktivitas di beberapa
negara, sehingga pandangannya tidak hanya terbentuk dari pengalaman Indonesia.
Konteks tersebut penting karena Aksi Massa
bukanlah buku yang ditulis dari ruang kosong. Ia merupakan respons intelektual
terhadap keadaan politik dan sosial yang sedang berlangsung.
Buku ini juga muncul dalam situasi ketika gerakan
politik di Indonesia menghadapi pertanyaan besar: bagaimana kolonialisme dapat
dilawan dan bagaimana rakyat dapat menjadi bagian dari perjuangan tersebut?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu latar
penting untuk memahami isi Aksi Massa.
Apa yang Dimaksud Tan Malaka dengan Aksi Massa?
Istilah “aksi massa” dalam buku ini memiliki
pengertian yang lebih luas daripada sekadar berkumpulnya orang dalam jumlah
besar.
Tan Malaka membedakan aksi massa dengan tindakan
yang hanya dilakukan oleh kelompok kecil tanpa keterlibatan luas dari rakyat.
Dalam pemikirannya, perubahan politik yang besar membutuhkan keterlibatan
masyarakat secara luas.
Inilah salah satu gagasan sentral buku tersebut.
Dalam pandangan Tan Malaka, massa bukan sekadar
objek yang mengikuti keputusan elite atau kelompok kecil. Massa memiliki
kepentingan ekonomi dan politik sendiri. Karena itu, gerakan yang ingin membawa
perubahan harus memiliki hubungan dengan kehidupan nyata masyarakat.
Pemikiran ini membuat Aksi Massa menarik
untuk dibaca karena Tan Malaka tidak hanya bertanya tentang siapa yang memimpin
sebuah gerakan, tetapi juga siapa yang menjadi basis sosial gerakan tersebut.
Ia menempatkan rakyat sebagai faktor penting
dalam perubahan sejarah.
Dengan kata lain, aksi massa dalam kerangka
pemikiran Tan Malaka bukan sekadar persoalan jumlah orang yang berkumpul. Yang
lebih penting adalah kesadaran, kepentingan, organisasi, dan hubungan antara
gerakan dengan kondisi masyarakat.
Kritik terhadap “Putsch”
Salah satu bagian yang menarik dari buku ini
adalah kritik Tan Malaka terhadap apa yang disebutnya sebagai putsch.
Dalam konteks buku tersebut, putsch
mengacu pada tindakan perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok kecil
secara mendadak dan tidak memiliki hubungan yang kuat dengan massa.
Tan Malaka memandang strategi seperti itu
memiliki persoalan mendasar. Kelompok kecil dapat membuat perencanaan sendiri,
tetapi belum tentu memiliki dukungan atau kesiapan masyarakat luas.
Di sinilah perbedaan antara putsch dan
aksi massa menjadi penting dalam argumentasi Tan Malaka.
Ia tidak sedang mengatakan bahwa perubahan cukup
dilakukan oleh orang-orang yang berani. Menurut kerangka pikirnya, keberanian
kelompok kecil tidak otomatis menghasilkan perubahan sosial apabila tidak
disertai keterlibatan masyarakat.
Deskripsi penerbit Gramedia mengenai buku ini
juga menekankan bahwa Tan Malaka mempertentangkan perebutan kekuasaan oleh
kelompok kecil dengan aksi massa yang berangkat dari kebutuhan ekonomi dan
politik masyarakat luas.
Bagi pembaca masa kini, bagian ini menarik karena
memperlihatkan bahwa Tan Malaka membedakan antara tindakan politik yang
bersifat spontan oleh kelompok terbatas dan gerakan yang memiliki basis massa.
Perbedaan tersebut merupakan salah satu konsep
yang paling penting untuk dipahami sebelum membaca keseluruhan buku.
Revolusi dalam Pandangan Tan Malaka
Kata “revolusi” muncul berkali-kali dalam Aksi
Massa. Namun, revolusi yang dibicarakan Tan Malaka perlu ditempatkan dalam
konteks zamannya.
Ia melihat masyarakat kolonial sebagai masyarakat
yang memiliki persoalan struktural. Kolonialisme tidak hanya dipandang sebagai
persoalan bahwa suatu bangsa dikuasai bangsa lain, tetapi juga berkaitan dengan
ekonomi, politik, kepemilikan, dan kehidupan rakyat.
Karena itu, pembahasan mengenai revolusi dalam
buku tersebut berkaitan erat dengan kondisi sosial.
Tan Malaka berusaha menjelaskan mengapa perubahan
besar tidak cukup hanya dilakukan melalui pergantian individu atau pejabat. Ia
melihat adanya sistem sosial dan ekonomi yang lebih besar di balik persoalan
tersebut.
Dari sinilah muncul gagasan bahwa perubahan harus
melibatkan kekuatan masyarakat luas.
Namun, pembaca masa kini perlu berhati-hati agar
tidak membaca konsep revolusi Tan Malaka secara terlepas dari konteks 1926.
Bahasa politik, kondisi masyarakat, bentuk
negara, dan situasi internasional pada saat itu berbeda dengan keadaan
Indonesia sekarang.
Oleh karena itu, Aksi Massa lebih tepat
dibaca sebagai dokumen pemikiran politik pada zamannya sekaligus sebagai bahan
untuk memahami sejarah pergerakan Indonesia.
Tan Malaka Tidak Langsung Membahas Indonesia Saja
Salah satu karakter menarik dari buku ini adalah
luasnya perbandingan yang digunakan.
Tan Malaka membahas pengalaman sejumlah bangsa
yang berada dalam situasi kolonial atau mengalami penindasan politik. Dalam
daftar isi, misalnya, terdapat pembahasan mengenai India, Filipina, dan
Indonesia dalam konteks imperialisme.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Tan Malaka
melihat persoalan Indonesia sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas.
Indonesia bukan satu-satunya masyarakat yang
menghadapi kolonialisme. Karena itu, pengalaman negara atau bangsa lain dapat
digunakan sebagai bahan untuk memahami kemungkinan perkembangan gerakan di
Indonesia.
Pendekatan perbandingan semacam ini membuat Aksi
Massa tidak hanya menjadi buku tentang sejarah Indonesia, tetapi juga
menjadi gambaran tentang bagaimana seorang pemikir Indonesia pada masa itu
melihat hubungan antara Indonesia dan dunia.
Sejarah Indonesia sebagai Dasar Pemikiran
Sebelum masuk lebih jauh ke persoalan revolusi,
Tan Malaka memberikan perhatian terhadap sejarah Indonesia.
Dalam daftar isi buku terdapat pembahasan mengenai
pengaruh luar negeri, masyarakat Indonesia, pengaruh Hindu, hingga tokoh
seperti Diponegoro.
Hal ini memperlihatkan bahwa Tan Malaka berusaha
menghubungkan masa lalu dengan kondisi politik pada zamannya.
Sejarah baginya bukan sekadar kumpulan tanggal
dan nama tokoh. Sejarah digunakan untuk membaca bagaimana masyarakat mengalami
perubahan dan bagaimana kekuasaan bekerja.
Bagian ini mungkin terasa berbeda bagi pembaca
modern yang mengharapkan buku politik langsung membicarakan strategi
pergerakan. Namun justru bagian tersebut membantu memperlihatkan cara berpikir
Tan Malaka.
Ia mencoba membangun argumentasi melalui
perjalanan sejarah sebelum sampai kepada kesimpulan politiknya.
Imperialisme dan Kapitalisme
Pembahasan tentang imperialisme merupakan bagian
penting lain dalam Aksi Massa.
Tan Malaka memandang kolonialisme tidak hanya
melalui hubungan politik antara penjajah dan bangsa yang dijajah. Ia juga
melihat dimensi ekonomi di dalamnya.
Hal ini kemudian berhubungan dengan pembahasan
mengenai kapitalisme Indonesia.
Dalam daftar isi, terdapat bab khusus tentang
“Kapitalisme Indonesia”, termasuk pembahasan mengenai perkembangan kapitalisme
yang masih muda dan hubungan kapital Indonesia dengan kapital internasional.
Bagi Tan Malaka, memahami ekonomi merupakan
bagian dari memahami politik.
Hal tersebut menjadi ciri khas pemikirannya. Ia
tidak memisahkan persoalan kesejahteraan rakyat dari struktur ekonomi dan
politik yang lebih luas.
Dari sudut pandang pembaca masa kini, bagian
tersebut menarik karena menunjukkan bahwa perdebatan mengenai hubungan antara
ekonomi dan kekuasaan sebenarnya sudah menjadi bagian dari diskursus politik
Indonesia sejak masa pergerakan.
Gambaran tentang Kondisi Rakyat
Setelah membahas sejarah, imperialisme, dan
kapitalisme, Tan Malaka kemudian membicarakan keadaan rakyat Indonesia.
Dalam struktur bukunya terdapat bab khusus
mengenai kemelaratan, kegelapan, serta kelaliman dan perbudakan.
Pembahasan tersebut menjadi penting karena
menjadi dasar bagi gagasannya mengenai aksi massa.
Jika rakyat mengalami persoalan ekonomi dan
politik, maka menurut pemikiran Tan Malaka, perjuangan politik tidak dapat
dilepaskan dari kepentingan konkret mereka.
Ini juga menjelaskan mengapa ia berulang kali
menekankan pentingnya hubungan antara gerakan politik dan kebutuhan masyarakat.
Sebuah gerakan, dalam pandangannya, tidak cukup
hanya memiliki slogan. Gerakan harus memiliki hubungan dengan realitas sosial.
Rakyat sebagai Subjek, Bukan Sekadar Penonton
Salah satu kesan terkuat setelah membaca Aksi
Massa adalah posisi yang diberikan Tan Malaka kepada rakyat.
Rakyat tidak hanya dipandang sebagai kelompok
yang akan menerima hasil perubahan. Mereka justru diposisikan sebagai salah
satu kekuatan utama yang memungkinkan perubahan itu terjadi.
Dalam kerangka ini, kesadaran politik menjadi
penting.
Masyarakat yang bergerak tanpa memahami
kepentingannya sendiri akan mudah diarahkan oleh kelompok lain. Karena itu,
pendidikan politik dan organisasi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari aksi massa.
Gagasan tersebut dapat menjadi salah satu bahan
refleksi bagi pembaca masa kini tanpa harus menerima seluruh kesimpulan politik
Tan Malaka.
Kita dapat mengambil pertanyaan yang diajukan
buku ini: bagaimana masyarakat dapat memahami persoalannya sendiri? Bagaimana
kepentingan rakyat diterjemahkan menjadi agenda politik? Dan bagaimana sebuah
gerakan dapat mempertahankan hubungan dengan masyarakat yang menjadi basisnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menarik
sebagai bahan diskusi sosial dan sejarah.
Partai dan Organisasi
Tan Malaka juga membahas partai dan perangkat
organisasi dalam bukunya.
Hal ini memperlihatkan bahwa aksi massa yang ia
bayangkan bukan tindakan spontan tanpa struktur. Ia memberikan perhatian
terhadap organisasi, program, dan tugas politik.
Dalam daftar isi terdapat bagian “Perkakas
Revolusi Kita” yang membahas partai, program nasional, serta tugas dan
organisasi partai.
Bagi pembaca, bagian ini penting karena
memperjelas bahwa istilah “massa” dalam pemikiran Tan Malaka tidak berarti
kerumunan yang bergerak tanpa arah.
Ada persoalan mengenai organisasi, kepemimpinan,
pendidikan politik, dan program yang harus dipikirkan.
Dengan demikian, aksi massa dalam buku ini
memiliki dimensi strategis dan organisasional.
Pandangan Tan Malaka terhadap Gerakan Kemerdekaan
Aksi Massa juga memberikan perhatian
kepada berbagai organisasi pergerakan Indonesia.
Dalam daftar isi, Tan Malaka membahas beberapa
organisasi seperti Budi Utomo, National Indische Partij, Sarekat Islam, dan
Indonesische Studieclub.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa Tan Malaka
tidak melihat gerakan kemerdekaan sebagai sesuatu yang seragam.
Ada berbagai organisasi dengan latar belakang,
strategi, dan basis sosial yang berbeda.
Tan Malaka kemudian memberikan penilaian
politiknya terhadap perkembangan tersebut.
Sebagai pembaca, kita tidak harus menerima
penilaian tersebut sebagai kebenaran tunggal. Justru di sinilah pentingnya
membaca buku sejarah secara kritis.
Pandangan Tan Malaka adalah satu perspektif dari
seorang tokoh pergerakan pada zamannya. Ia penting dipelajari, tetapi dapat
dibandingkan dengan sumber dan perspektif tokoh lainnya.
Kelebihan Buku Aksi Massa
Salah satu kelebihan utama buku ini adalah keberanian
Tan Malaka membangun argumentasi yang luas.
Ia tidak hanya mengatakan bahwa rakyat harus
bergerak. Ia mencoba menjelaskan mengapa kondisi sosial, ekonomi, dan politik
menghasilkan kebutuhan akan perubahan.
Struktur buku yang dimulai dari revolusi, sejarah,
imperialisme, kapitalisme, keadaan rakyat, sosial, politik, hingga perangkat
revolusi memperlihatkan bahwa argumentasinya dibangun secara bertahap.
Kelebihan kedua adalah keberanian membicarakan
rakyat sebagai kekuatan politik.
Dalam konteks sejarah Indonesia, pemikiran
tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana seorang tokoh pergerakan
melihat hubungan antara rakyat dan perubahan politik.
Kelebihan ketiga adalah cakupan internasionalnya.
Tan Malaka tidak hanya melihat Indonesia dari
dalam. Ia juga membandingkan pengalaman Indonesia dengan wilayah lain yang
mengalami kolonialisme.
Kelebihan berikutnya adalah buku ini memiliki
nilai historis yang kuat.
Membaca Aksi Massa berarti membaca salah
satu dokumen pemikiran dari masa ketika gagasan kemerdekaan Indonesia masih
menjadi perjuangan politik.
Kekurangan dan Tantangan Membacanya
Meski menarik, buku ini bukan tanpa kekurangan.
Pertama adalah persoalan bahasa.
Naskah yang ditulis pada 1926 tentu memiliki gaya
bahasa yang berbeda dari bahasa Indonesia kontemporer. Edisi modern memang
telah mengalami penyuntingan, tetapi pembaca tetap dapat menemukan istilah atau
cara berpikir yang terasa asing.
Kedua adalah konteks sejarah yang cukup berat.
Pembaca yang tidak memiliki pengetahuan dasar
mengenai sejarah pergerakan nasional mungkin akan kesulitan memahami mengapa
Tan Malaka memberikan perhatian besar terhadap imperialisme, kapitalisme,
partai, dan revolusi.
Ketiga, beberapa gagasan Tan Malaka sangat
terikat dengan situasi politik pada zamannya.
Karena itu, pembaca perlu membedakan antara
gagasan yang merupakan analisis terhadap Indonesia tahun 1920-an dengan
pertanyaan yang dapat digunakan untuk membaca masyarakat sekarang.
Keempat, gaya argumentasi Tan Malaka cenderung
tegas.
Ia tidak menulis seperti seorang peneliti
kontemporer yang selalu memisahkan data, metodologi, dan kesimpulan secara
formal. Buku ini merupakan karya politik yang argumentatif.
Karena itu, pembaca sebaiknya tidak memperlakukan
semua pernyataan di dalamnya sebagai fakta objektif tanpa konteks.
Apakah Aksi Massa Masih Relevan Dibaca?
Pertanyaan ini menarik, terutama karena buku
tersebut ditulis hampir satu abad lalu.
Jawabannya bergantung pada apa yang ingin dicari
pembaca.
Jika pembaca ingin mencari panduan langsung untuk
menghadapi politik Indonesia saat ini, buku ini tentu harus dibaca dengan
hati-hati karena konteksnya sangat berbeda.
Namun, jika tujuannya adalah memahami sejarah
pemikiran politik Indonesia, buku ini memiliki nilai yang kuat.
Aksi Massa membantu pembaca memahami
bagaimana seorang tokoh pergerakan melihat kolonialisme, rakyat, organisasi,
ekonomi, dan perubahan sosial.
Buku ini juga mengajarkan bahwa sebuah gagasan
politik tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah yang melahirkannya.
Gagasan mengenai massa, organisasi, revolusi, dan
perjuangan yang ditulis pada 1926 lahir dalam kondisi masyarakat yang sangat
berbeda dari Indonesia sekarang.
Karena itu, relevansinya lebih tepat dilihat
sebagai bahan untuk berpikir dan berdiskusi, bukan sebagai resep yang harus
diterapkan secara mentah.
Apa yang Bisa Dipelajari Pembaca Masa Kini?
Ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan
refleksi setelah membaca buku ini.
Pertama, perubahan sosial tidak selalu dapat
dipahami hanya dari tindakan individu. Kondisi sosial, ekonomi, dan politik
juga memengaruhi kehidupan masyarakat.
Kedua, Tan Malaka menunjukkan pentingnya memahami
masyarakat sebelum membicarakan perubahan. Sebuah gerakan politik menurut
kerangka pemikirannya harus memiliki hubungan dengan persoalan konkret
masyarakat.
Ketiga, organisasi menjadi bagian penting dalam
gerakan sosial. Massa yang besar tidak otomatis menghasilkan perubahan apabila
tidak memiliki arah dan organisasi.
Keempat, sejarah tidak hanya berisi cerita
mengenai tokoh-tokoh besar. Peran masyarakat luas juga menjadi bagian penting
dari proses perubahan.
Kelima, buku ini mengingatkan bahwa pemikiran politik selalu memiliki
konteks. Apa yang dianggap sebagai strategi yang tepat oleh seorang tokoh pada
1926 tidak otomatis dapat dipindahkan begitu saja ke situasi hampir satu abad
kemudian.
Bagi pembaca, justru di situlah tantangan intelektualnya.
Aksi Massa dan Cara Membaca Sejarah
Membaca buku sejarah politik sebaiknya tidak
dilakukan hanya untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.
Buku seperti Aksi Massa akan lebih
menarik apabila dibaca sebagai sebuah dokumen pemikiran.
Kita dapat bertanya: mengapa Tan Malaka berpikir
demikian? Kondisi apa yang membuatnya mengambil kesimpulan tersebut? Siapa
masyarakat yang sedang ia bicarakan? Apa yang terjadi di Indonesia ketika buku
itu ditulis?
Dengan pertanyaan semacam itu, pembaca tidak
sekadar menghafal isi buku.
Pembaca juga belajar memahami bagaimana gagasan
lahir dari kondisi sejarah.
Pendekatan tersebut juga membantu kita menghindari
pembacaan yang terlalu sederhana terhadap Tan Malaka.
Ia bukan sekadar nama yang dapat ditempatkan
dalam satu label politik. Ia adalah seorang tokoh pergerakan dengan gagasan
yang kompleks, kontroversial, dan sangat dipengaruhi oleh situasi internasional
maupun Indonesia pada zamannya.
Kesimpulan
Aksi Massa merupakan salah satu karya
penting untuk memahami pemikiran Tan Malaka mengenai revolusi, rakyat,
kolonialisme, kapitalisme, dan organisasi politik.
Buku ini ditulis pada 1926, ketika Indonesia
masih berada di bawah pemerintahan kolonial. Dari konteks tersebut, Tan Malaka
berusaha menjelaskan mengapa perubahan politik menurut pandangannya membutuhkan
keterlibatan rakyat secara luas.
Gagasan utama yang menonjol adalah pembedaan
antara aksi massa dan tindakan kelompok kecil yang ia sebut sebagai putsch.
Ia menekankan pentingnya hubungan antara gerakan dengan kepentingan masyarakat
serta pentingnya organisasi dan kesadaran politik.
Di luar gagasan tersebut, buku ini juga menarik
karena menghubungkan sejarah Indonesia dengan imperialisme, kapitalisme,
kondisi sosial, dan pengalaman bangsa-bangsa lain.
Sebagai karya yang berusia hampir satu abad,
tentu tidak semua analisisnya dapat dipindahkan begitu saja ke kondisi
Indonesia sekarang. Konteks sejarahnya berbeda, struktur masyarakat berubah,
dan persoalan politik berkembang.
Namun, justru karena itulah Aksi Massa
layak dibaca.
Bukan semata-mata untuk mencari jawaban politik
yang siap digunakan, melainkan untuk memahami bagaimana seorang tokoh
pergerakan Indonesia membaca zamannya.
Pada akhirnya, nilai penting buku ini mungkin
bukan terletak pada apakah pembaca menerima seluruh gagasan Tan Malaka atau
tidak. Nilainya justru terletak pada kemampuannya membuka ruang pertanyaan.
Bagaimana perubahan sosial terjadi?
Seberapa besar peran masyarakat dalam sejarah?
Apa hubungan antara kondisi ekonomi dan politik?
Mengapa organisasi penting dalam sebuah gerakan?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita
membaca gagasan seorang tokoh masa lalu secara kritis tanpa melepaskannya dari
konteks sejarah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Aksi
Massa tetap menarik untuk dibaca dan didiskusikan.
Buku ini bukan sekadar cerita tentang aksi massa.
Ia adalah catatan tentang bagaimana seorang pemikir Indonesia pada masa kolonial
berusaha memahami masyarakatnya dan membayangkan perubahan yang menurutnya
diperlukan.
Membacanya hari ini berarti melakukan perjalanan
ke masa lalu—bukan untuk mengulangnya begitu saja, tetapi untuk memahami
bagaimana gagasan tentang rakyat, kemerdekaan, dan perubahan pernah
diperdebatkan dalam sejarah Indonesia.
Catatan Referensi
1. Tan Malaka. Aksi Massa. Edisi yang tercatat dalam
katalog Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta:
Yogyakarta, Narasi, cetakan keenam, 2019, 148 halaman, ISBN 978-602-5792-52-6.
2. Tan Malaka. Massa Actie. Teks digital yang memuat
keterangan bahwa risalah tersebut pertama kali diterbitkan pada 1926 di
Singapura. Wikisource Bahasa Indonesia.
3. Tan Malaka. Aksi Massa (1926). Daftar isi dan teks
digital yang memuat pembahasan tentang revolusi, sejarah Indonesia,
imperialisme, kapitalisme Indonesia, keadaan rakyat, keadaan sosial dan
politik, revolusi Indonesia, organisasi, gerakan kemerdekaan, serta program
proletar.
4. Gramedia. Aksi Massa — Tan Malaka. Informasi bibliografis
dan deskripsi penerbitan edisi Narasi, termasuk jumlah halaman, tanggal terbit,
ISBN, serta ringkasan gagasan mengenai aksi massa dan kritik terhadap putsch.
5. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Katalog Aksi Massa karya Tan Malaka, dengan penyunting A. Yogaswara,
penerbit Narasi, 2019.
6. Thaufiq Hidayat. Etika Aksi Massa Tan Malaka Perspektif
Utilitarianisme John Stuart Mill. Institutional Repository UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2025. Digunakan sebagai referensi tambahan mengenai kajian
akademik kontemporer terhadap dimensi etis pemikiran Tan Malaka dalam Aksi
Massa.
0 Komentar