Terlalu Sering Makan Seblak, Penyakit Apa yang Bisa
Mengintai?
Sumber gambar:Pinterest
Seblak
menjadi salah satu makanan yang semakin populer di Indonesia. Makanan berbahan
dasar kerupuk yang dimasak dengan bumbu khas ini dikenal memiliki cita rasa
gurih, pedas, dan kuat. Tidak sedikit orang yang menjadikan seblak sebagai
makanan favorit, bahkan mengonsumsinya beberapa kali dalam seminggu.
Perkembangan
seblak juga membuat makanan ini semakin beragam. Jika dahulu seblak identik
dengan kerupuk basah, kini berbagai macam bahan dapat ditambahkan, mulai dari
telur, mi, bakso, sosis, ceker ayam, makaroni, seafood olahan, hingga berbagai
jenis sayuran.
Namun,
di balik rasanya yang menggugah selera, muncul pertanyaan mengenai dampak
terlalu sering makan seblak terhadap kesehatan. Apakah makan seblak secara
rutin benar-benar dapat menyebabkan penyakit?
Jawabannya
perlu dilihat secara lebih hati-hati. Seblak tidak dapat disebut sebagai
penyebab langsung suatu penyakit pada setiap orang. Dampaknya terhadap
kesehatan sangat bergantung pada bahan yang digunakan, jumlah yang dikonsumsi,
tingkat kepedasan, kandungan garam, minyak, serta pola makan seseorang secara
keseluruhan.
Meski
begitu, kebiasaan mengonsumsi seblak secara berlebihan tetap perlu
diperhatikan.
Mengapa
Seblak Bisa Berdampak pada Kesehatan?
Salah
satu alasan seblak perlu dikonsumsi secara bijak adalah karena dalam satu porsi
dapat terdapat berbagai bahan dengan kandungan yang berbeda-beda.
Rasa
gurih pada seblak biasanya berasal dari kombinasi garam, penyedap, saus, kecap,
kaldu, dan bumbu lainnya. Sementara itu, tambahan seperti sosis, bakso, mi
instan, atau makanan olahan lainnya juga dapat menyumbang natrium.
Menurut
World Health Organization (WHO), orang dewasa dianjurkan mengonsumsi kurang
dari 2.000 miligram natrium per hari atau setara dengan kurang dari 5 gram
garam. Konsumsi natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena
itu, persoalannya bukan hanya terletak pada seblaknya, tetapi juga pada
bagaimana makanan tersebut dibuat dan seberapa sering dikonsumsi.
Seblak
yang dimakan sesekali tentu berbeda dengan seblak yang dikonsumsi hampir setiap
hari dengan tingkat kepedasan tinggi dan banyak tambahan makanan olahan.
1.
Gangguan Pencernaan
Salah
satu efek yang paling mungkin dirasakan setelah makan seblak terlalu pedas
adalah gangguan pada sistem pencernaan.
Cabai
mengandung capsaicin, yaitu senyawa yang memberikan sensasi pedas. Pada orang
tertentu, konsumsi makanan yang sangat pedas dapat menimbulkan rasa tidak
nyaman pada saluran pencernaan.
Keluhan
yang muncul dapat berupa mulas, perut terasa panas, sakit perut, atau buang air
besar lebih sering.
Respons
setiap orang terhadap makanan pedas berbeda. Ada orang yang mampu mengonsumsi
makanan dengan tingkat kepedasan tinggi tanpa mengalami masalah, tetapi ada
pula yang langsung mengalami gangguan pencernaan.
Oleh
karena itu, apabila tubuh terus memberikan reaksi setelah makan seblak,
sebaiknya tingkat kepedasan dan frekuensi konsumsinya dikurangi.
2.
Mulas dan Rasa Tidak Nyaman pada Lambung
Seblak
dengan cabai dalam jumlah banyak dapat menjadi masalah bagi orang yang sensitif
terhadap makanan pedas.
Rasa
pedas dapat memberikan sensasi terbakar atau tidak nyaman pada saluran
pencernaan. Pada sebagian orang, makanan pedas juga dapat memperburuk keluhan
yang sudah ada sebelumnya.
Namun,
penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap rasa sakit pada lambung
setelah makan seblak berarti seseorang mengalami penyakit tertentu.
Keluhan
lambung dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pola makan, waktu makan, stres,
jenis makanan lain yang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan seseorang juga
dapat berpengaruh.
Jika
keluhan muncul berulang kali dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan oleh tenaga
kesehatan dapat membantu mengetahui penyebabnya.
3.
Tekanan Darah Tinggi akibat Pola Makan Tinggi Natrium
Hal
lain yang perlu diperhatikan dari seblak adalah kandungan garam atau
natriumnya.
Satu
porsi seblak dapat menggunakan berbagai bahan yang mengandung natrium. Garam,
saus, kecap, kaldu, penyedap, sosis, bakso, dan makanan olahan lainnya dapat meningkatkan
jumlah natrium dalam makanan.
WHO
menjelaskan bahwa konsumsi natrium yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan
darah. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko penyakit
kardiovaskular.
Namun,
tidak tepat jika dikatakan bahwa makan seblak satu atau dua kali langsung
menyebabkan seseorang terkena hipertensi.
Hipertensi
merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan
dalam jangka panjang, aktivitas fisik, berat badan, usia, faktor genetik, dan
faktor lainnya.
Yang
perlu diperhatikan adalah kebiasaan makan secara keseluruhan.
Jika
seseorang hampir setiap hari mengonsumsi makanan tinggi natrium, termasuk
seblak dengan banyak bumbu dan makanan olahan, maka pola tersebut perlu
diperbaiki.
4.
Asupan Garam Bisa Menjadi Berlebihan
Rasa
gurih sering menjadi salah satu alasan mengapa orang menyukai seblak.
Namun,
makanan yang terasa sangat gurih belum tentu baik jika dikonsumsi secara
berlebihan.
Dalam
pembuatan seblak, garam dapat berasal dari berbagai sumber. Selain garam dapur,
natrium juga dapat berasal dari saus, kecap, kaldu bubuk, penyedap rasa, serta
bahan makanan olahan.
Jika
beberapa sumber tersebut digunakan bersamaan, jumlah natrium yang masuk ke
tubuh dapat menjadi lebih tinggi.
Masalahnya,
seseorang mungkin tidak menyadari jumlah garam yang dikonsumsi karena rasa
gurih sudah menjadi bagian dari cita rasa makanan.
WHO
menganjurkan pengurangan konsumsi natrium sebagai salah satu langkah untuk
membantu menjaga tekanan darah dan menurunkan risiko penyakit yang berkaitan
dengan tekanan darah tinggi.
5.
Berat Badan Bisa Bertambah Jika Konsumsi Berlebihan
Seblak
juga perlu diperhatikan dari sisi jumlah kalori.
Seblak
dengan tambahan mi, makaroni, bakso, sosis, telur, ceker, dan berbagai topping
lainnya dapat memiliki kandungan energi yang lebih tinggi dibandingkan seblak
dengan bahan yang lebih sederhana.
Jika
makanan tersebut dikonsumsi dalam jumlah besar dan tidak diimbangi aktivitas
fisik yang cukup, asupan energi harian dapat menjadi berlebihan.
Namun,
sekali lagi, bukan berarti seblak otomatis menyebabkan seseorang mengalami
obesitas.
Kenaikan
berat badan dipengaruhi oleh keseimbangan antara energi yang masuk dan energi
yang digunakan tubuh dalam jangka waktu tertentu.
Karena
itu, jika seseorang sering makan seblak dalam porsi besar, ditambah minuman
manis dan makanan tinggi kalori lainnya, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi
terhadap pola makan berlebihan.
6.
Terlalu Banyak Makanan Olahan dalam Seblak
Seblak
masa kini sering memiliki banyak pilihan topping.
Sosis,
bakso, dumpling, crab stick, mi instan, dan berbagai makanan olahan lainnya
sering menjadi pilihan untuk membuat seblak semakin menarik.
Menambahkan
bahan tersebut sesekali bukan berarti langsung berbahaya. Namun, jika makanan
olahan menjadi bagian utama dari pola makan sehari-hari, jumlah natrium dan zat
gizi tertentu yang masuk ke tubuh perlu diperhatikan.
Pola
makan yang sehat sebaiknya tetap memiliki keberagaman sumber makanan.
Sayuran,
buah-buahan, sumber protein, biji-bijian, dan makanan lain yang kaya zat gizi
juga penting untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Dengan
demikian, seblak sebaiknya tidak menjadi satu-satunya makanan yang sering
dikonsumsi.
7.
Apakah Seblak Bisa Menyebabkan Maag?
Pertanyaan
mengenai hubungan seblak dan maag cukup sering muncul.
Namun,
perlu dibedakan antara makanan pedas sebagai pemicu keluhan dan penyebab suatu
penyakit.
Pada
sebagian orang, makanan pedas dapat memperburuk rasa tidak nyaman pada saluran
pencernaan. Jika seseorang sudah memiliki masalah pada lambung, makanan
tertentu mungkin dapat membuat gejalanya terasa lebih berat.
Tetapi
tidak tepat jika dikatakan bahwa makan seblak otomatis menyebabkan seseorang
terkena maag.
Keluhan
lambung dapat memiliki berbagai penyebab sehingga diagnosis tidak dapat
ditentukan hanya berdasarkan makanan yang dikonsumsi.
Jika
seseorang sering mengalami nyeri ulu hati, rasa terbakar di dada, mual, atau
keluhan lain setelah makan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
8.
Seblak Pedas Bisa Memicu Diare pada Sebagian Orang
Sebagian
orang mungkin mengalami buang air besar lebih sering setelah mengonsumsi
makanan yang sangat pedas.
Hal
tersebut dapat terjadi karena tubuh setiap orang memiliki tingkat toleransi
terhadap capsaicin yang berbeda.
Jika
setelah makan seblak seseorang mengalami diare berulang, kondisi tersebut tidak
sebaiknya dianggap sebagai hal yang harus selalu ditoleransi.
Cobalah
mengurangi tingkat kepedasan dan memperhatikan apakah keluhan berkurang.
Apabila
diare berlangsung terus-menerus, sangat berat, atau disertai tanda-tanda
seperti lemas dan dehidrasi, pemeriksaan medis diperlukan.
9.
Apakah Makan Seblak Setiap Hari Aman?
Tidak
ada satu angka yang dapat digunakan sebagai batas aman untuk semua orang.
Hal
ini karena kandungan seblak berbeda-beda.
Seblak
yang dibuat dengan sedikit garam dan lebih banyak sayuran tentu berbeda dengan
seblak yang menggunakan banyak saus, penyedap, mi, sosis, bakso, dan topping
lainnya.
Namun,
menjadikan seblak sebagai makanan yang dikonsumsi setiap hari bukan pilihan
yang ideal jika menyebabkan pola makan menjadi kurang beragam.
Tubuh
membutuhkan berbagai macam zat gizi. Karena itu, makanan sebaiknya tidak hanya
berfokus pada satu jenis menu.
Seblak
dapat dinikmati sebagai makanan sesekali tanpa harus menjadikannya menu harian.
10.
Cara Makan Seblak agar Lebih Terukur
Bagi
orang yang menyukai seblak, berhenti makan seblak sepenuhnya sebenarnya bukan
satu-satunya pilihan.
Ada
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatur konsumsinya.
Pertama,
pilih tingkat kepedasan yang sesuai dengan kemampuan tubuh.
Kedua,
jangan berlebihan menggunakan garam, saus, kecap, kaldu, dan penyedap.
Ketiga,
tambahkan sayuran agar makanan lebih beragam.
Keempat,
pilih sumber protein seperti telur atau ayam dan tidak selalu mengandalkan
makanan olahan sebagai topping.
Kelima,
perhatikan ukuran porsi.
Keenam,
jangan menjadikan seblak sebagai pengganti pola makan yang beragam.
Ketujuh,
perhatikan makanan lain yang dikonsumsi dalam satu hari.
Misalnya,
jika pada siang hari sudah mengonsumsi makanan yang cukup asin, pilihan makanan
berikutnya dapat dibuat lebih rendah garam.
Seblak
Tidak Selalu Berarti Makanan yang Harus Dihindari
Makanan
sering kali mendapatkan label “sehat” atau “tidak sehat” secara berlebihan.
Padahal,
kondisi sebenarnya jauh lebih kompleks.
Seblak
bukan makanan yang otomatis berbahaya. Dampaknya bergantung pada komposisi,
porsi, frekuensi konsumsi, serta pola hidup seseorang.
Begitu
juga dengan makanan pedas lainnya.
Makan
makanan pedas sesekali bukan berarti seseorang akan langsung mengalami
penyakit. Sebaliknya, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, tinggi
energi, dan rendah variasi secara terus-menerus perlu mendapatkan perhatian.
Karena
itu, yang lebih penting bukan hanya bertanya “Apakah seblak berbahaya?”, tetapi
juga “Seberapa sering saya makan seblak dan bagaimana pola makan saya secara
keseluruhan?”
Pertanyaan
tersebut memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai hubungan antara
makanan dan kesehatan.
Kapan
Harus Mengurangi Makan Seblak?
Tubuh terkadang memberikan tanda
ketika suatu makanan tidak cocok atau dikonsumsi secara berlebihan.
Jika setiap kali makan seblak
seseorang mengalami sakit perut, mulas, diare, mual, atau rasa tidak nyaman
lainnya, frekuensi dan tingkat kepedasan sebaiknya dikurangi.
Begitu pula jika seblak membuat
seseorang menggantikan makanan bergizi lainnya secara terus-menerus.
Kebiasaan makan yang baik bukan
berarti tidak boleh menikmati makanan favorit. Yang lebih penting adalah
menjaga keseimbangan.
Jika seseorang memiliki kondisi
kesehatan tertentu atau sedang mendapatkan anjuran diet dari dokter, aturan
tersebut perlu menjadi pertimbangan utama.
Kesimpulan
Terlalu
sering makan seblak bukan sesuatu yang perlu dianggap sepele, terutama jika
seblak dikonsumsi dalam porsi besar, memiliki tingkat kepedasan tinggi, serta
mengandung banyak garam, saus, penyedap, dan makanan olahan.
Namun,
tidak tepat pula mengatakan bahwa seblak secara langsung menyebabkan penyakit
tertentu.
Dampak
terhadap kesehatan lebih banyak berkaitan dengan pola konsumsi secara
keseluruhan. Makanan yang tinggi natrium, jika dikonsumsi berlebihan dalam
jangka panjang, dapat meningkatkan tekanan darah dan berkontribusi terhadap
risiko penyakit kardiovaskular.
Makanan
pedas juga dapat menimbulkan keluhan pencernaan pada sebagian orang, terutama
mereka yang memiliki sensitivitas terhadap makanan pedas.
Karena
itu, seblak tetap dapat dinikmati dengan memperhatikan porsi, frekuensi,
tingkat kepedasan, dan bahan yang digunakan.
Pada
akhirnya, menjaga kesehatan bukan berarti harus menghilangkan semua makanan
favorit. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang beragam, seimbang,
dan tidak berlebihan.
Referensi
World Health Organization (WHO),
“Sodium reduction.”
World Health Organization (WHO),
“Healthy diet.”
World Health Organization (WHO),
“WHO global sodium benchmarks for different food categories.”
.
0 Komentar